Tampilkan postingan dengan label Bolmong Raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bolmong Raya. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

TIRANI PERPUSTAKAAN KOTAMOBAGU 3


Langkah Perbaikan
Ada usul yang bersifat solusi, yaitu saya diminta untuk mengambil jalan lain sesuai kebutuhan saya.
Oh ya, sekedar info saja, saya memang membutuhkan anggaran dalam waktu dekat ini. Bukan untuk kebutuhan pribadi saya karena kebutuhan pribadi saya sudah bisa dipenuhi dari kerja-kerja lainnya. Tapi, dipenghujung bulan ini novel RELASI HITAM SANG AKTIVIS akan terbit dalam rangka menyambut hari reformasi 23 Mei nanti. Penerbitan bukan lagi sekadar untuk konsumsi lokal tapi akan edar di toko-toko buku seperti novel JATUHNYA SANG BINTANG. Saat ini novel RELASI HITAM SANG AKTIVIS sudah memasuki pracetak yang dilakukan oleh pihak lain. Untuk tahapan pracetak saya masih sanggup, tapi tahap cetak dan pasca cetak saya memang membutuhkan kontribusi dari pihak lain.
RELASI HITAM SANG AKTIVIS ini memang sangat terkait dengan reformasi karena isinya menceritakan sisi lain dari perjalanan reformasi. Novel ini direncanakan akan dibedah di salah satu organisasi besar di Jawa dan akan diberi Kata Pengantar oleh pelaku sejarah reformasi yang juga ahli hukum tata Negara, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (YIM).
Buat saya, penerbitan RELASI HITAM SANG AKTIVIS tepat waktu cukup penting, tak hanya bagi saya tapi juga penting untuk Bolaang Mongondow Raya. Penerbitan RELASI HITAM SANG AKTIVIS akan sama dengan penerbitan JATUHNYA SANG BINTANG yang akan mengikutkan juga logo-logo Bolaang Mongondow Raya. Endorsement cover belakang pun akan diusahakan dari pihak yang terkait dengan Bolaang Mongondow Raya walau tentu harus berhubungan dengan penerbit untuk kriterianya. Jadi, novel ini akan coba dibahas minimal di luar Sulawesi Utara dan Gorontalo dengan mengetengahkan instrument-instrumen Bolaang Mongondow Raya.
Karena itu, saya memang butuh anggaran yang cepat untuk penerbitan ini. Tapi bukan berarti persoalan Perpustakaan selesai dengan adanya solusi anggaran lainnya ini. Persoalan dengan Perpustakaan sifatnya sangat mendasar.
Perpustakaan memang bukanlah seperti instansi lainnya yang langsung berhubungan dengan publik. Terlebih di lingkungan yang membaca dan menulis belum menjadi tradisi, terkadang keberadaan perpustakaan hanya dipandang sebelah mata. Namun pihak-pihak yang memperhatikan perpustakaan bisa dikatakan orang-orang militan karena tersaring oleh lingkungan. Kekritisannya pun bukan untuk tawar menawar tapi memang untuk perbaikan di mana mereka akan ikut dalam sistem tersebut. Bukan untuk ikut campur tapi untuk memperbaiki sehingga perpustakaan bisa lebih berfungsi.

Perpustakaan dan Keterlibatan Masyarakat
Bagi saya, hubungan dengan perpustakaan bukan sekadar penyedia produk dengan pembeli. Karena dorongan hati maka saya akan menyiapkan diri untuk terlibat lebih jauh lagi. Saya ingin memfungsikan perpustakaan seperti perpustakaan di tempat lainnya.
Malang adalah contoh perpustakaan yang patut ditiru. Di perpustakaan Malang berkembang komunitas membaca dan menulis. Kegiatan-kegiatan terkait dengan buku dan kepenulisan juga dilakukan di sana. Bahkan cukup sering bule yang mengadakan kegiatan di perpustakaan.
Perpustakaan juga sering mengadakan kegiatan yang bekerjasama dengan komunitas. Seperti kegiatan di sekolah-sekolah, kegiatan membaca bersama masyarakat dan lainnya.
Bagi seorang penulis, dia tak hanya berharap bukunya bisa terjual tapi juga bisa terbaca. Begitupun dengan saya. Saya tak sekadar berharap buku saya bisa dianggarkan pengadaannya oleh pihak perpustakaan tapi saya juga ingin bekerja bersama perpustakaan sehingga hubungan dengan perpustakaan tidak sekadar penjual dan pembeli.
Terlebih pemerintah telah mengkampanyekan peningkatan minat baca masyarakat, fungsi dan peran perpustakaan akan sangat besar. Sudah tergambar pada saya apa yang hendak saya lakukan bersama perpustakaan ketika buku-buku saya masuk ke perpustakaan.
Sayangnya yang saya dapatkan jauh gantang dari api. Keberadaan saya nilainya tak lebih dari tumpukan rupiah. Sehingga munculah pernyataan bahwa saya ingin mengkoptasi anggaran, sebuah kata lain dari kerakusan. Ini kekeliruan penilaian dari orang yang keliru penempatannya oleh Walikota.
Sungguh saya tak tahu lagi harus mengatakan apa terkait perpustakaan Kotamobagu sekarang.  Andaipun kinerjanya dipandang baik, menurut saya ada baiknya Walikota menempatkan beliau di tempat lain sehingga kebaikannya juga bisa dirasakan oleh tempat lainnya.
»»  LANJUTKAN???...

Minggu, 08 April 2012

TIRANI PERPUSTAKAAN KOTAMOBAGU 2


Merundingkan Perhitungan
Sejujurnya sempat muncul keraguan untuk mengurai persoalan ini panjang lebar karena memang saya marah besar ketika perundingan terakhir dengan pihak perusahaan. Secara pribadi saya merasa tersakiti. Saya putra daerah, karya saya sangat terkait dengan daerah walau tidak keseluruhannya. Minimal latar cerita maupun tokoh sangat terkait dengan daerah. Pun pembicaaraan dengan elit telah dilakukan dengan baik namun pada pelaksanaannya ternyata tidak seperti yang diharapkan. Bukan saja saya ditolak tapi dikatakan RAKUS KARENA INGIN MENGAMBIL SEMUA ANGGARAN YANG TERSEDIA.
Sekadar kilas balik, pada pertemuan bulan Februari, Kepala Perpustakaan mengatakan anggaran pengadaan buku besarnya 40 juta. Namun begitu kami kembali pada awal bulan april, anggarannya tersisa 32 juta. Berarti telah berkurang 8 juta atau 20%. Ketika ditanyakan anggaran buku saya yang 4 judul dengan ketersediaan 300 eksemplar perjudul dan harga 25 ribu-30 ribu rupiah perjudul, saya dengan jujur harus mengatakan bahwa anggaran keseluruhan untuk buku saya besarnya 38 juta.
38 juta jelas akan mengambil 95% anggaran jika anggarannya masih tetap 40 juta, bahkan anggaran yang ada akan kurang 6 juta jika anggaran yang tersedia tinggal 32 juta alias berkurang 20%. Anggaran ini sangat kecil jika dikaitkan dengan anggaran lainnya yang bernilai milyaran. Tapi tetap saja ini anggaran namanya dan tentu saya tak akan bertindak serakah walau anggarannya kecil.
Sejak awal saya sudah katakan kesediaan saya untuk berunding. Untuk berunding, saya sudah bersabar setahun lebih lamanya. Saya juga tak pernah mempergunakan power elit yang telah memberikan jalan ini dalam menekan. Bagi saya, perundingan yang baik adalah dengan tidak mengikutkan pihak lain--terlebih dalam menekan.
Saya mengemukakan angka 38 juta karena itu yang ditanyakan. Tapi bukan berarti itu bahwa angka itu harus dipenuhi karena masih terbuka pintu untuk solusi. 300 eksemplar untuk judul yang harganya 30 ribu, harga totalnya 9 juta. Sedangkan 300 eksemplar untuk judul yang harganya 25 ribu, harga totalnya 7,5 juta.
Pengemukaan angka-angka diatas sebenarnya untuk membuka ruang diskusi lebih lanjut. Misalnya dengan mengakomodir 2 judul terlebih dahulu dan perjanjian untuk penganggaran 2 judul lainnya pada waktu berbeda. Ini baru solusi namanya dan merupakan bagian pekerjaan dari seorang penentu kebijakan.
Namun penentu kebijakan dengan gagahnya langsung berteriak: DIA SOMO AMBE SAMUA INI ANGGARAN...
Beruntung orang yang menerima telepon telah mengetahui siapa saya, dan tentu dia yang lebih mengetahui siapa Kepala Kantor Perpustakaan.
Kemampuan komunikasi dari Kepala Perpustakaan ini yang mengherankan sekaligus menyesalkan saya. Dalam kondisi normal, saya masih ingin berdebat. Tapi ini kondisinya sama sekali tidak normal. Dan daripada saya terbawa perasaan, saya lebih memilih menjabat tangan beliau dan berlalu.
Saya pikir wajarlah jika ada rasa kesal yang luar biasa. Sudah setahun saya mengusahakan, semua karena arahan petinggi yang kuasanya lebih tinggi dari Kepala Perpustakaan, tapi ternyata mentok di Kepala Perpustakaan. Padahal apa yang diinginkan oleh Kepala Perpustkaan sudah saya lakukan. Termasuk menyediakan pihak ketiga yang ternyata tidak bisa lagi karena sudah buku saya pun tinggal disisipkan. Kekesalan saya yang lain, ternyata arahan dari atasan tidak dipatuhi oleh Kepala Perpustakaan. Ketidakpatuhan Kepala Perpustakaan ini akan memunculkan penafsiran lain, jangan-jangan pihak atasan sebenarnya telah mengintruksikan kepada Kepala Perpustakaan untuk mengambil kebijakan seperti ini.
Memang bisa jadi ATASAN BAIK SEDANGKAN BAWAHAN KURANGBAIK. Tapi jika kebijakan atasan sudah setahun lebih tapi tetap tidak dilakukan oleh bawahan, bisa juga akan timbul pemikiran lain. Apalagi kebijakan dari atasan sebenarnya telah tepat dan tidak melanggar aturan.
»»  LANJUTKAN???...

TIRANI PERPUSTAKAAN KOTAMOBAGU 1

Diminta Mencari Pihak Ketiga Ujung-ujungnya…

Sekitar sebulan yang lalu saya dihubungi teman yang kalau tak salah dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain karena saya mungkin dipandang sebagai senior, gerakan yang mau mereka lakukan mereka pandang terkait dengan saya. Mereka akan mengkritisi Perpustakaan, sebuah dunia yang memang dekat dengan saya mengingat keberadaan saya sebagai orang yang belajar menulis.
Dunia penulisan memang sangat dekat dengan dunia perbukuan. Selain memproduksi buku, dunia penulisan juga mengharuskan dirinya untuk banyak membaca. Saya meyakini sangat sedikit penulis yang tak mencintai dunia literasi. Dunia penulis dan dunia perbukuan seperti 2 sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Mungkin karena pertimbangan itu sehingga kawan-kawan yang hendak menyoal perpustakaan menghubungi saya sekitar sebulan yang lalu. Mungkin kawan-kawan kecewa sebab respon saya tak seperti yang mereka harapkan.  Pada mereka, saya mempersilahkan untuk bergerak tapi saya belum mendukung secara langsung gerakan mereka. Saya katakan BELUM karena mungkin akan tiba juga waktunya justru saya yang akan bicara tentang persoalan ini.
Sejak kembali ke kampung halaman tahun 2005, memang harus saya akui ada perubahan cara menyikapi kebijakan dibandingkan ketika berada di rantau. Selain di kampung halaman ini kita dikelilingi oleh orang-orang yang punya hubungan darah dengan kita sehingga memunculkan kesulitan dalam melangkah, juga kita berpandangan akan lebih membawa perubahan jika kita menyentuh sisi hati dibandingkan sisi emosi.
Ada satu kenyataan yang harus kita akui. Ternyata masih banyak yang seperti paku, mereka hanya bisa bergerak ketika diketuk keras. Jika hanya diketuk pelan, tak akan menghasilkan gerakan apa pun. Ketukan pelan itu tak ubahnya elusan yang mungkin akan menunda munculnya karat yang akan mengurangi kekuatan paku tapi tak akan mengubah apa pun.
Kembali ke soal Perpustakaan, sesungguhnya saya ingin berunding terlebih dulu sebelum bergerak lebih jauh. Dan perundingan itu telah berjalan sejak awal tahun lalu. Untuk memudahkan kita memahami persoalan, baiklah saya uraikan disini proses perundingan tersebut.
AWAL tahun lalu (2011), saya direkomendasikan untuk menghadap kepala Perpustakaan Kotamobagu, Nasrun Paputungan. Saya pun menghadap. Pertemuan pertama yang langsung menghangat karena cara bicara beliau yang seolah-olah menuduh saya tak mengetahui cara main. Beliau waktu itu meminta saya untuk menyiapkan pihak ketiga, namun saya mengira saya cukup MENJUAL saja kepada siapapun yang bekerja sama dengan pihak perpustakaan. Tapi beliau ngotot. Saya mencari tapi belum bertemu dengan pihak ketiga yang tepat sampai akhirnya waktupun berlalu.
Menjelang pembahasan APBDP, saya mengkomunikasikan masalah saya dengan beberapa pihak. Menurut kabar yang saya dengar, persoalan ini jadi bahasan di tingkat elit. Mulai dari Asisten II dan lainnya membahas jalan keluar untuk menganggarkan tapi tidak bertentangan dengan aturan. Akhirnya, pilihan tetap melalui PERPUSTAKAAN. Dan untuk itu dilakukanlah gerilya untuk menganggarkan di APBDP tapi kepala Perpustakaan entah mengapa justru menolak. Walhasil, APBDP pun lewat.
Ketika kawan-kawan menghubungi saya untuk mengkritisi Perpustakaan, saya sedang berunding dengan mempergunakan pintu lain yang saya pikir tak salah. Namun proses inipun ternyata tak membawa hasil. Baiklah saya uraikan proses berikutnya.
Awal tahun, saya dipanggil oleh seorang kawan yang cukup dekat dan dia bilang sudah bicara dengan kepala Perpustakaan dan saya dituding oleh kepala Perpustakaan tidak memahami apa yang dia katakan. Padahal kata kawan ini, menurut penuturan Kepala Perpustakaan, beliau sangat ingin membantu saya. Karena itu, oleh kawan ini, saya diminta untuk membawa pihak ketiga. Akhirnya saya pun mencari dan ketemu.
Dua bulan lalu, saya menghadap bersama pihak ketiga. Kami sudah masukan spek buku ke Kepala Perpustakaan dan diterima dengan baik dengan pernyataan dari Kepala Perpustakaan agar bertemu bulan april. Menurut beliau, anggaran perpustakaan 40 juta.
Hari jumat minggu lalu, saya dan pihak ketiga kembali menghadap tapi Kepala Perpustakaan tidak ada. Melalui phonsel, beliau minta agar hari senin saja.
Hari senin 2 April, saya dan pihak ketiga kembali menghadap. Gejalan aneh mulai terlihat. Sudah mulai banyak persoalan dimunculkan. Anggaran perpustakaan dikatakan hanya 32 juta. Melihat gelagat tidak baik ini, saya pun menghubungi kawan dan meminta Kepala Perpustakaan untuk bicara langsung dengan kawan. Anehnya, Kepala Perpustakaan bilang saya ingin semua anggaran untuk buku saya padahal beliau tak bisa melakukan itu karena harus ada anggaran untuk buku lain. Beliau pun bilang harus taat pada RKA dan memperlihatkan RKA pada kami. Buku saya cuma bisa disisipkan.
Pasal 16 dari Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah berbunyi:
(1) Paket Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dapat dilaksanakan oleh ULP atau 1 (satu) orang Pejabat Pengadaan.
(2) Paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dapat dilaksanakan oleh ULP atau 1 (satu) orang Pejabat Pengadaan.
(3) Pengadaan Langsung dilaksanakan oleh 1 (satu) orang Pejabat Pengadaan.
Pengertian lain dari peraturan perundang-undangan ini jika dikaitkan dengan kasus saya maka berarti:
1.            Jika menyertakan pihak ketiga yang berbentuk perusahaan maka itu merupakan kewenangan dari kuasa pengguna anggaran
2.            Merujuk nomor satu (1) berarti Kepala Perpustakaan telah menunjuk pihak lain
3.            Jika telah merujuk pihak lain maka berarti pihak ketiga yang diminta oleh Kepala Perpustakaan sudah tidak terpakai lagi
4.            Jika ujung-ujungnya pihak ketiga yang saya usahakan tidak terpakai, kenapa ngotot meminta saya untuk mengadakan pihak ketiga?

Bagi sebagian orang, mungkin bisa saja dengan mudah meninggalkan pihak lain yang telah berteman dengan kita, tapi tidak bagi saya. Pertemanan merupakan segala-galanya, terlebih untuk pihak ketiga ini saya memang diminta untuk mencari.
Ini baru terkait dengan pihak ketiga yang diminta agar saya sediakan. Dari proses yang ada, terlalu banyak persoalan yang bisa dimunculkan.
»»  LANJUTKAN???...

Sabtu, 07 April 2012

Pohon Kelapa Seperti Palm

Pohon kelapa ini sudah seperti pohon palm yang mempunyai anakan dan anakannya tumbuh serta berbuah
seperti pohon induknya. Dalam pantau tim RD News, anakan pohon kelapa ini sudah yang ke 7. Saat muncul,
anakannya bisa 4-5 bahkan menurut penuturan warga ada yang sampai 6 anakan. Namun yang dipelihara
hanya sampai 3 anakan. Walau tidak dipelihara secara khusus namun anakan-anakan pohon kelapa ini
dapat berbuah normal.

Menurut penuturan penduduk, pohon kelapa yang seperti pohon palm ini banyak dikunjungi pasangan
suami-isteri yang belum mempunyai anak

»»  LANJUTKAN???...

Sabtu, 31 Maret 2012

Punu'

Patung Bogani di Kotabangon. Bogani adalah
pemimpin wilayah yang memilih Punu'

Punu' adalah pemimpin melegenda yang keberadaannya  700-an tahun lalu, itu jika benar perhitungan dibeberapa literatur yang mengatakan bahwa Mokodoludut merupakan Punu' pertama yang memerintah tahun 1300-an. Saya katakan 'jika benar' karena menurut beberapa kajian dari daerah sekitar yang terkait dengan masa purba Bolmong Raya, dinyatakan Bolmong Raya ratusan tahun lebih tua dibandingkan literatur yang ada. Yang jelas masa Punu' berakhir ketika pemimpin digantikan oleh Manoppo yang dibaptis dengan nama Jacobus.
Saya katakan masa Punu' melegenda karena pada ini cukup banyak hal yang luar biasa. Wilayah kekuasaannya yang mencapai Maadon atau Manarow atau Lembe atau Wenang yang sekarang disebut Manado setelah Punu' Damopolii menaklukan Bobentehu yang berkuasa di sana. Sistemnya yang demokratis karena Kinalang atau Punu' dipilih oleh para pemimpin wilayah yang dijuluki Bogani walau yang dipilih harus tetap dari turunan Mokodoludut. Pemimpin demikian disegani, disayangi dan dihormati rakyatnya; sampai-sampai meninggalnya diadakan upacara duka selama 7 hari dan 7 malam yang dimulai sejak masa Damopolii--upacara ini disebut mongalang dan orang yang diupacarai disebut Kinalang sehingga Damopolii disebut juga 'Ki Damopolii inta ki Kinalang'. Terciptanya sumpah Paloko-Kinalang atau antara Penguasa dan Rakyat yang menurut saya menjadi penjamin bahwa kedua pihak sama-sama ingin pembangunan untuk semua.

Punu' Sebagai Sahabat
Punu' disebut juga tompunu'on yang berarti 'dipangku'. Kata ini mempunyai kedalaman makna yang luar biasa. Seorang yang telah dipangku berarti seorang yang mempunyai kedekatan karena tidak mungkin kita sembarangan memangku siapapun dan karena dekat maka kita pasti akan menyayanginya. Walau dekat dan kita menyayanginya namun kita juga punya keseganan terhadapnya. Punu' nyaris sama dengan sahabat karib yang kita sayangi sekaligus segani. Karena kita menyayangi dan segan maka seorang Punu' akan menyediakan dirinya untuk melayani, membela, mengayomi dan memajukan taraf kehidupan kita. Seorang Punu' menyadari bahwa tanpa melakukan hal-hal itu tak akan ada yang bersedia monompunu' atau memangku atau menjadikan dia Punu'.
Karena Punu' menyatu dengan rakyat yang oleh Tadohe diabadikan dalam sumpah Palok-Kinalang maka keberadaan wilayah ke-Punu'-an diakui sampai di luar. Tentang hal ini, kita serahkan dulu pada orang luar untuk menilai masa lalu kita.

Bagaimana Sekarang?
Sebagai penutup, mari kita sama-sama kaji situasi aktual. Sistem yang berlaku sekarang sesungguhnya demokrasi yang luar biasa terbuka dibandingkan masa Punu'. Di masa Punu', yang bisa menjadi Punu' hanya keturunan dari Mokodoludut yang dipilih oleh para pemimpin wilayah pilihan rakyat yang disebut Bogani. Sistem ini bahkan lebih tertutup dibandingkan pemilihan pemimpin di masa Orde Baru di mana yang dipilih rakyat bisa siapa saja melalui wakil-wakilnya  di lembaga legislatif. Sedangkan saat ini, legislator dan pucuk pimpinan birokrasi sama-sama dipilih oleh rakyat.
Namun semakin terbukanya demokrasi ternyata bukan jaminan perikehidupan masyarakat akan lebih baik, pun tidak menjamin daerah akan semakin kokoh dan diperhitungkan di luar. Bahkan tidak mampu mengangkat daerah sehingga minimal bisa dikenal di luar. Dari sini saya memandang belum ada yang setingkat Punu'.
Walau demikian, harapan itu tetap ada karena para birokrat dan politisi akan berganti. Dan semoga yang menggantikan bisa menjadi seperti Punu’. (Anuar Syukur, owner RUMAH DINANGOI—tempat diskusi dan kuliner SERBA MONGONDOW)
»»  LANJUTKAN???...

Senin, 16 Mei 2011

Daftar Kekayaan 30 Tokoh BMR Tahun 2010

Pernah di muat di SUARA TOTABUAN

No
Nama
Jumlah Kekayaan (RP)
1
Ir. H. Doludu Mokodompit
30 Milyar
2
Bambang Rachmadi Sugeha
17 Milyar
3
Dra. Hj. Marlina Moha SIahaan
12 Milyar
4
Drs. H. Djelantik Mokodompit
12 Milyar
5
Hj. Titiek Mokodompit, SH. MSi
12 Milyar
6
Dra. Yasti Soeprojo Mokoagow
11 Milyar
7
Ir. Limi Mokodompit, MM
11 Milyar
8
Ir. Yahya Djanggola
10 Milyar
9
Drs. H. J. A. Damopolii
10 Milyar
10
Drs. H. Sehan Mokoapa Mokoagow
10 Milyar
11
Drs. H. Hamdan Datunsolang
7 Milyar
12
Aditya Didi Moha, SKed
7 Milyar
13
Drs. H. Idrus Mokodompit
6 Milyar
14
H. Hamdi Paputungan, SH, MM
6 Milyar
15
Drs. Syachrial Damopolii, MBA
5 Milyar
16
Drs. Samsurijal Mokoagow, SH, MH
5 Milyar
17
H. Achmad Marendes, MBA
5 Milyar
18
Salihi Mokodongan
5 Milyar
19
Ir. Siswa Rachmat Mokodongan
4 Milyar
20
H. Wachid Makalalag, SSos
4 Milyar
21
Drs. H. Holil Domu, MSi
3 Milyar
22
H. Nurdin Makalalag, SE
3 Milyar
23
H. Rustam Siahaan
3 Milyar
24
H. Herson Mayulu, SIP
2 Milyar
25
Ir. Tatong Bara
2 Milyar
26
Drs. Arudji Mongilong
2 Milyar
27
Drs. H. Abdullah Mokoginta
2 Milyar
28
Kandoli Mokodongan, SH
1 Milyar
29
Drs. H. Depri Pontoh
1 Milyar
30
Ir. Jaya Moginta, MT
1 Milyar
»»  LANJUTKAN???...

Kamis, 05 Mei 2011

Paloko-Kinalang

Kisah Pecinta dan Dicinta Dalam Sejarah Kuasa

Bolaang Mongondow sebenarnya bisa juga disebut gudang kisah—ada yang nyata dan ada yang fiksi. Salah satu kisah nyata yang abadi sampai sekarang adalah dodandian Paloko-Kinalang (perjanjian Paloko-Kinalang) yang monumental itu.
Perjanjian Paloko-Kinalang dibuat pada masa Tadohe (Sadohe) menjadi Punu’ atau Tule’ Molantud (pimpinan masyarakat Bolaang Mongondow sebelum masuk zaman Datu) sekitar tahun 1600-an. Perjanjian ini merupakan perjanjian antara rakyat (yang diwakili para bogani) dan penguasa. Perjanjian ini bisa dikatakan sebagai ground norm (norma dasar) dan dari sini juga turun aturan-aturan resmi berbentuk hukum adat yang selama lima Punu’ sebelumnya (Mokodoludut, Yayu Bangkai, Damopolii, Busisi, dan Mokodompit) belum ada.
Dengan perjanjian, kita bisa menyebut Punu’ Tadohe sebagai peletak hukum. Namun yang jadi pertanyaan, siapa Paloko-Kinalang? Apakah keduanya hanya simbol atau manusia yang kemudian disimbolkan? Dan apa makna dari perjanjian ini?

Perbauran Antar Masa
Bolaang Mongondow dari masa ke masa merupakan negeri oral. Kisah—baik nyata maupun fiksi—hanya dituturkan lewat lisan tanpa dituliskan. Tulisan-tulisan justru kita dapatkan dari penulis Belanda (salah satunya W. Dunnebier yang terjemahannya saya gunakan sebagai pegangan dalam penulisan artikel ini). Banyak memang sisi lemah dari tulisan Belanda ini. Pertama, mereka datang jauh setelah kejadian terjadi (Dunnebier tiba di Bolaang Mongondow sekitar tahun 1948) sehingga yang ada hanya pengumpulan bahan dari penuturan masyarakat. Kedua, bagaimanapun Belanda adalah penjajah yang cenderung melemahkan apa yang dilakukan oleh negeri jajahan. Namun kita tak punya pilihan lain.
Jika kita membaca buku Dunnebier terjemahan R. Mokoginta yang berjudul Mengenal Raja-raja Bolaang Mongondow akan kita temukan bahwa Perjanjian Paloko-Kinalang yang monumental itu dibuat pada masa Punu’ Tadohe (sekitar tahun 1600 M) namun hanya Paloko yang hidup pada masa itu, sedangkan Kinalang telah lama meninggal saat perjanjian tersebut dibuat.
Paloko adalah orang yang mendiami sekitar kali Kinotobangan (sekarang Kotabangon). Dikisahkan, setelah Tadohe dewasa maka dia pergi ke Bonugalan (sekarang Desa Uangga) untuk mengawini putri Datulansike dan Linangkasi. Namun ternyata dia diusir oleh orang tua sang putri. Akhirnya, dengan penuh kekecewaan Todohe hendak kembali ke Togid (wilayah Kotabunan). Di kali Kotabangon dia bertemu dengan Paloko yang sedang menangkap ikan dengan tangan. Paloko berusaha mencegah niat Tadohe ke Togid dengan bermacam cara, bahkan sampai menyerahkan empat keping doit (uang lama) dan sebungkus beras sebagai tanda takluk. Ternyata yang berhasil adalah dengan menyerahkan cucunya untuk dinikahi Tadohe tanpa mas kawin (tali’). Akhirnya, ketika Tadohe dijadikan Punu’ oleh para Bogani dan dibuat perjanjian antara rakyat yang diwakili para Bogani dan penguasa yang diwakili oleh Tadohe maka penamaan untuk rakyat diistimbatkan pada Paloko. Tidak diketahui pasti mengapa demikian. Mungkin saja karena penyerahan diri penuh—sampai-sampai menyerahkan cucunya untuk dinikahi tanpa mas kawin—pada penguasa (Tadohe’) yang membuat namanya dijadikan pelambang.
Kinalang adalah gelar untuk Damopolii yang memerintah seabad lebih sebelum perjanjian Paloko-Kinalang dibuat. Punu’ Damopolii memerintah tahun 1480-1510 M. Damopolii adalah Punu’ ketiga setelah Mokodoludut dan Yayubangkai. Dikisahkan bahwa Punu’ Damopolii merupakan penguasa besar, kekuasaannya sampai di daerah Minahasa. Dan menurut saya, penguasaannya bukan sekadar karena penaklukan dengan kekerasan (perang) namun beliau punya cara sendiri sehingga Bolaang Mongondow dan Minahasa bisa bersatu dibawah kepemimpinannya. Hal ini dapat dilihat dari pemakaian fam (marga) Ramopolii, Polii, Damo, yang merupakan pengubahan dari Damopolii di Minahasa. Adanya fam ini menurut hemat kami menunjukan keakraban beliau dengan rakyat Minahasa.
Dijelaskan bahwa gelar Kinalang bukan hanya disandangkan pada Punu’ Damopolii tapi juga pada semua keturunannya yang menjalankan kekuasaan. Ketika Punu’ Damopolii meninggal diadakan acara berkabung yang disebut ‘Mongalang’ atau ‘Kinalang’. Karena acara ini diadakan pertama kali pada masa wafatnya Punu’ Damopolii sehingga lazim disebut ‘Damopolii inta Kinalang’.
Kinalang merupakan simbol penguasa yang dicintai oleh rakyatnya sehingga kepergiannya ditangisi secara “resmi” oleh rakyat selama 7 hari 7 malam—seakan-akan rakyat ingin dibawa serta oleh sang penguasa ke alam baka sana. Kecintaan rakyat ini yang membuat pembangunan berjalan dengan cepat. Juga namanya terukir dengan indah sepanjang masa.

Adakah Paloko-Kinalang Sekarang?
Jelas keberadaan Paloko-Kinalang bukan hanya impian warga di tanah Totabuan, bahkan bukan hanya warga di Sulawesi Utara yang pernah dikuasi oleh para Kinalang, atau bukan hanya Indonesia di mana negeri para Kinalang ini sekarang ini bergabung. Keberadaan Paloko-Kinalang ini menjadi impian umat manusia di atas bumi Allah ini.
Namun, apakah ada yang seperti ini saat ini? Apakah ada rakyat yang takluk penuh pada penguasa karena merasa dirinya akan dapat disejahterakan oleh penguasa? Adakah penguasa yang dicintai rakyat sedemikian rupa sehingga namanyapun menjadi prasasti walau telah meninggal puluhan tahun? Adakah penguasa yang dicintai rakyat karena mampu mensejahterakan rakyat? (ATS)
»»  LANJUTKAN???...

Siswa Teladan yang Butuh Kepedulian

Elisa Zelin Tampoi
Siswa Teladan yang Butuh Kepedulian

Bolaang Mongondow (bersatu) pada umumnya, Kotamobagu pada khususnya, sebenarnya punya segudang generasi muda yang handal. Di masa yang akan datang, merek ini yang akan menjadi tumpuan harapan dalam membangun daerah kita tercinta. Namun banyak juga yang ditundukan oleh keadaan sehingga mereka berhenti di tengah jalan. Kondisi ekonomi, ini momok yang sangat susah diatasi sendirian oleh generasi muda yang handal ini—dan karena ketidakmampuan mengatasi sehingga memaksa mereka untuk berhenti.
Kami cukup mengenal banyak kawan segenerasi yang mengalami hal ini. Dalam persaingan dari segi kecerdasan, mereka sesungguhnya lebih hebat dari kami. Mereka menjadi bintang sekolah sementara kami bukanlah apa-apa. Mereka bukan kami kalahkan, namun nasib yang mengalahkan mereka. Andai kami diberi fasilitas yang sama, kami yakin kami akan kalah.
Tentu saja kami tak bisa bersorak. Dalam perlombaan ini bukan kami yang menang dan mereka yang terhenti ditengah jalan adalah pihak yang kalah. Justru kita semua yang kalah, terutama daerah. Seharusnya mereka bisa memberi sumbangsi yang lebih pada daerah seandainya mereka tidak terhenti. Namun, sekarang mereka bukan apa-apa lagi sementara kami tak bisa memberikan lebih untuk daerah ini.
Terhentinya mereka yang berpikiran cemerlang membuat kita semua menderita kekalahan. Karena itu, ini tak boleh terulang pada generasi sekarang.
Elisa Zelin Tampoi adalah satu dari sedikit generasi muda yang handal dan bisa menjadi andalan di masa yang akan datang. Putri Poyowa Kecil kelahiran 5 Maret 1995 ini telah mengukir begitu banyak prestasi diusianya yang masih dini. Walau berasal dari keluarga yang sederhana namun juara sekolah selalu di tangannya. Saat menjadi siswa SDN 1 Poyowa Kecil, minimal dia juara 2. Selama 3 tahun di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kotamobagu, dia selalu mendapat juara pertama.  Saat inipun, ketika dia melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kotamobagu, juara umum sudah digenggamannya.
“Insya Allah kalau Allah mengizinkan saya terus sekolah, saya akan berusaha mempertahankan dan meningkatkan nilai saya,” kata siswi kelas 2 jurusan IPA, MAN Kotamobagu ini.
Elin, demikian panggilannya, tak hanya bisa bersaing dengan kawan-kawannya melainkan telah banyak kali mewakili sekolah untuk bersaing ditingkat Kabupaten/Kota sampai Provinsi. Dan hasilnya luar biasa.
Pada bulan Juli 2008, bersama teman-temannya di MTsN Kotamobagu dia mendapat juara 2 Senam Santri pada Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Daerah (Pospeda) tingkat Provinsi Sulawesi Utara. Pada bulan Agustus 2008 dia mendapatkan juara 1 dalam cabang fisika dan biologi di olimpiade Matematika, Fisika, Biologi (Mafikib) tingkat kabupaten Bolaang Mongondow. Pada olimpiader Mafikib tingkat Provinsi dia juga tetap mempertahankan juara 1 untuk cabang fisika dan biologi. Kemudian dia mengukiti lomba Siswa Teladan tingkat Provinsi di MAN Model Manado. Saat lomba MTQ, dia mendapat juara pertama untuk cabang Fahmi Quran (cerdas cermat al-Quran) tingkat Kabupaten Bolaang Mongondow dan juara 2 MTQ tingkat Provinsi Sulawesi Utara.
Generasi muda yang luar biasa. Sayangnya Elin tak tertunjang dengan kondisi ekonomi keluarga.
“Kami sesungguhnya sudah menyerah. Namun melihat prestasi dan keinginan anak, ya kami berusaha sebisa kami. Tapi kami berpesan padanya agar dia tidak iri melihat kawan-kawannya dan kalau kami memang sudah tidak mampu lagi maka sebaiknya dia berpikir yang arif dan bijaksana sehingga bisa menerima,” kata H. Paputungan, ibunda Elin.
Ayahanda Elin, M. S Tampoy, yang hanya buruh tani. Ibundanya hanya ibu rumah tangga. Keadaan ini memang tak cukup memberi fasilitas bagi pemenang berbagai lomba ini untuk dapat menggapai cita-citanya. Bahkan bisa saja keadaan mengharuskan dia berhenti di tengah jalan. Padahal, bagi anak muda secerdas Elin, 6 tahun adalah waktu yang lama untuk menggapai sarjana dihitung sejak dia kelas 2 sekarang. Dan kami meyakini dia akan menjadi sarjana yang mumpuni dan bisa mengabdikan diri pada negeri.
“Walau kekurangan namun aku ingin memperlihatkan apa yang mampu aku lakukan. Aku berharap dengan apa yang mampu kulakukan ini bisa membantuku menggapai cita-cita,” kata Elin.
Dia berencana, dengan berbagai prestasinya, dia akan mengurus berbagai beasiswa yang tersedia. Namun ternyata tidak mudah. Bahkan ada beberapa lomba yang diikutinya dan dia menangkan belum ada ditangan padahal itu merupakan bukti dari prestasinya.
“Bagi kami, sertifikat itu sangat penting karena merupakan bukti prestasi anak kami. Lagi pula, mungkin saja sertifikat itu bisa membantu sekolahnya. Namun ketika ditanyakan ke sekolah, katanya sertifikat itu masih di Depag dan akan diantar kalau sudah diberikan ke sekolah. Kami sungkan untuk terus menanyakan karena takut disangka tidak percaya pada sekolah. Mungkin bagaimana sebaiknya kami bersikap?” tanya Ibunda Elin.
Padanya, kami mengatakan semoga pihak terkait bisa memperhatikan setelah membaca tulisan ini karena kami tak bisa berbuat lebih selain menuliskan.
Agar tidak terganggu belajarnya, saat ini Elin tinggal di rumah kakak perempuannya yang baru bisa memberikan tempat baginya untuk belajar dengan tenang namun belum bisa memberikan bantuan lebih.
Elin terus berusaha membuktikan diri dengan mengukir prestasi sampai kondisi yang ada memang mengharuskan dia untuk berhenti berkarya. Pada titik ini, pada semangat yang terpancar dari jiwa muda ini, pada prestasi yang memang terbukti, pada kemungkinan semua ini akan sirnah karena kondisi ekonomi yang tak memberi kesempatan baginya, kami terpanggil.
Namun kami hanya mampu menuliskan. Pada pembaca dan pengambil kebijakan kami harapkan uluran tangan. Bukan sekadar untuk seorang Eliza Zelin Tampoy melainkan untuk menyelamatkan generasi muda potensial yang Insya Allah akan berguna di masa yang akan datang. Uluran tangan pada generasi muda seperti Elin Insya Allah merupakan investasi yang tidak akan merugikan.
Telah banyak sumberdaya manusia potensial yang terabaikan pada generasi terdahulu, termasuk teman-teman digenerasi kami. Saat ini mereka tak bisa memberikan lebih. Semoga pada generasi Zelin ini tidak terjadi. (ATS)

»»  LANJUTKAN???...

Jumat, 05 November 2010

KEMBALI KE KARAKTER BOLMONG


Perbincangan dengan Mohammad Agung Adati
Membicarakan Bolaang Mongondow dari sudut sejarah, adat dan budaya akan selalu mengasyikan. Sehingga membuat kita terkadang lupa waktu yang dalam bahasa Mongondow disebut “mokoanga’”. Membicarakan sejarah, adat dan budaya Bolaang Mongondow memang cukup bermanfaat. Selain kita bisa rehat dari memikirkan ribetnya persoalan ke-Bolmong-an aktual, juga dapat mengalirkan energi baru pada kita untuk membangun Bolaang Mongondow sehingga menjadi kuat dan di segani karena sisi sejarah, adat dan budaya memang mengandung spirit yang luar biasa.
»»  LANJUTKAN???...

Rabu, 20 Oktober 2010

Hati Tanah…


==Tutuyana==
Hati Tanah…
Heboh. Entah mengapa Inde’ tiba-tiba Inde’ pingsan dan kemudian bicara macam-macam ketika persoalan Avocet didiskusikan.
“Hati tanah itu kusimpan agar bisa dinikmati anak-cucu. Di simpan dalam-dalam agar anak-cucu tak gampang mendapatkannya. Ini hati tanah, anak-cucu, kalian harus membujuknya seperti kalian membujuk calon suami atau calon isteri kalian. Kalau kalian terlalu memaksa dengan membom, kemudian mempergunakan bahan segala rupa, dia akan lari, anak-cucu,” kata Inde’ parau, sepertinya bukan dia yang bicara.
»»  LANJUTKAN???...

Selasa, 21 September 2010

PINOLOSIAN YANG TERPINGGIRKAN



Pinolosian, dinamakan demikian karena di sinilah tempat memecahkan batu yang mengandung emas yang didapatkan oleh putra Bogani Lolayan yang berdiam di gunung Polian. Terkisahkan, Bogani Lolayan memerintahkan putranya untuk berburu ke pantai selatan Bolaang Mongondow. Namun bukan buruan yang dia dapatkan melainkan batu aneh nan indah, batu keras yang dihiasi warna kuning berkilauan. Karena beratnya batu, sesampainya di tempat datar, batu inipun dipecahkan yang dalam bahasa Mongondow disebut “ilosi” dan tempat pemecahannya disebut “Pinolosian”.

»»  LANJUTKAN???...

Jumat, 13 Agustus 2010

Tuntul Di masa Sulit



Memasuki Ramadhan, selain kue dan berbagai jenis makanan mulai dari manuk pinogiot (membahasa Indonesia kan gimana ya?), ilosingan, rica-rica, yondog, kolak, onde-onde, dan lainnya yang kita nikmati ketika buka dan sahur. Juga baju baru, ilulut, binarundak, dinarag, dan lainnya saat hari raya. Yang terbayang pada kita juga adalah meriahnya tuntul 3 malam terakhir Ramadhan.

»»  LANJUTKAN???...

LOBONG, LUMBUNG NENAS BOLMONG



Panen Besar Jelang Lebaran
Adam Potabuga dan Isteri
Lobong merupakan desa di jalan utama trans Sulawesi Amurang-Kotamobagu-Doloduo (AKD) yang menjadi penghubung dengan Manado. Letaknya di ngarai yang diapit gunung, di kanan-kirinya terdapat deretan pegunungan. Di deretan pegunungan itu akan kita lihat barisan nenas yang menghijau.

»»  LANJUTKAN???...

Selasa, 13 Juli 2010

Laporan Perjalanan ke Tutuyan*




MENITI JALAN EMAS

Semalam mata belum terpejam. Setelah memposting tulisan di blog saya (anuarsyukur.blogspot.com), mata yang belum mengantuk dan pikiran yang terus berkelana membuat saya betah didepan computer. Selanjutnya, nonton final bola Spanyol-Belanda. Ngantuk berat tapi saya sudah berjanji pada Sekda Boltim, Rudi Mokoginta MTP untuk ke ibu kota Boltim, Tutuyan. Walau menurut orang tua, keluarga besar saya ada juga di kecamatan Kotabunan—sebutan untuk wilayah ini saat masih satu dengan Bolaang Mongondow—namun aku belum pernah ke sana. Juga, saya penasaran dengan daerah yang baru dimekarkan dua tahun lalu ini. Maka aku mengharuskan diriku untuk jalan.
»»  LANJUTKAN???...

Minggu, 04 Juli 2010

MOKINTOB RIWAYATMU KINI




Mokintob, Riwayatmu Kini
Mokintob adalah nama sebuah lembah di lereng pegunungan di pelosok dataran Dumoga. Anda akan dapat ke sana melalui Dumoga-Kembang Merta atau Imandi-Tambun.
Awalnya lembah ini tak seperti namanya, dia masih terselubung kabut. Yang tahu hanya petani yang merupakan campuran Mongondow, Bali, Bugis, dan Minahasa yang menanam cokelat dan jeruk cina.
Di akhir 80-an, para petani mulai bertanya ketika para bas mulai mengerjakan bangunan-bangunan yang cukup megah di sana, pakai bangunan dengan atap kaca segala. Aneh!
Dari isu yang di dengar, di sana akan didirikan SMTP.
Sekolah Menengah Tingkat Pertama? Aneh, sekolah untuk tamatan SD kok di tengah hutan? Mereka baru tahu apa kegunaan bangunan itu ketika tahun 1989 para anak muda dari berbagai penjuru Sulawesi datang ke lembah sunyi ini, bahkan ada yang dari luar Sulawesi. Lembah sunyi inipun berubah ramai dengan anak muda yang berpakaian putih-abu-abu.
Dari sini para petani baru tahu bahwa yang dimaksud SMTP ternyata bukan “Sekolah Menengah Tingkat Pertama” melainkan merupakan kelanjutannya. Nama panjangnya cukup keren “Sekolah Menengah Teknologi Pertanian”. Tak sekadar namanya yang keren melainkan juga dapat dilihat dari fasilitas yang ada di dalamnya. Di sini ada lahan yang luasnya sekitar lima hektar, kolam ikan, kandang, bengkel. Juga terdapat tiga rumah kaca, laboratorium pengolahan hasil pertanian. Ada laboratorium Biologi, Fisika, Kimia dengan peralatan yang lengkap. Semua itu merupakan sarana penunjang bagi siswa sehingga bisa-bisa ahli dalam lapangan pertanian. Juga terdapat traktor dalam berbagai ukuran serta berbagai mesin.
Siswa terbagi dalam lima rumpun. Ada rumpun Agronomi yang mempelajari budidaya pertanian, rumpun Peternakan yang mempelajari budidaya ternak, rumpun Teknologi Hasil Pertanian yang mempelajari pengolahan hasil pasca panen, Mekanisasi Pertanian yang mempelajari berbagai alat dan mesin pertanian, serta Usaha Tani Terpadu yang merupakan rangkuman segalanya tapi yang lebih menarik di sini adalah pelajaran ilmu perikanannya.
Sejak awal dibuka, Mokintob telah menjadi kota dipedalaman Dumoga. Siswa dan guru yang diharuskan tinggal didalam kompleks sekolah benar-benar menyatu dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Namun kini Mokintob kembali sunyi.***

»»  LANJUTKAN???...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Daftar Isi Blog

Teman di FB